![]() |
| Tiga mahasiswa yang merupakan hacker ratusan website diperlihatkan Polda Metro Jaya saat pers rilis pada Selasa (13/3/2018).Foto/SINDOnews/Ari Sandita Murti |
JAKARTA - Tiga mahasiswa yang meretas 600 website di 44 negara
telah meraup uang hasil kejahatan sebanyak Rp200 juta. Komplotan hacker ini
telah beraksi sejak 2017 lalu.
Kasubdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Roberto Pasaribu
mengatakan, ketiga mahasiswa yang meretas 600 website itu meraup mulai dari Rp
50-200 juta."Setiap meretas, mereka meminta uang ke korbannya kalau mau
sistemnya dipulihkan kembali. Uang tebusannya bervariasi, tapi bisa sampai
Rp50-200 juta," kata Robertero kepada wartawan, Selasa (13/3/2018).
Menurut Roberto, 600 website dan sistem IT yang tersebar di 44 negara yang
sudah diretas tiga mahasiswa itu. Namun, jumlah itu kemungkinan bisa bertambah
bergantung perkembangan penyelidikan di lapangan.
Mereka, lanjut Roberto, beraksi dengan menggunakan metode SQL Injection untuk
merusak database. Terungkapanya aksi mereka itu setelah polisi menerima
informasi dari FBI tentang adanya puluhan sistem di 44 negara rusak.
Dalam pengembangan, ternyata bukan hanya 600 website saja yang diretas
melainkan ada sebanyak 3.000 sistem IT yang jadi sasaran hacking mereka.
"Kita kerja sama dan mendapat informasi itu. Kita analisa sampai dua
bulanan berdasarkan informasi dari FBI itu, ternyata lokasinya itu di
Surabaya," ucapnya.

0 komentar: